Ada apa dengan sinetron kita ?
Posted by Putu Steven Mendra on July 29, 2008
Sebuah kritik seorang biasa
Membaca judul post di atas R2 yakin akan banyak orang di Indonesia yang akan berpikiran dan menanyakan hal yang sama. Bagaimana tidak, mulai dari judul sinetron sampai alur ceritanya sungguh terasa sangat memuakkan. (ups! Sorry, but I have to say it!). Celakanya lagi walau berulang-ulang kali menerima kritikan-kritikan tajam, wajah sinetron kita sama sekali tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Dengan alur cerita yang begitu-begitu saja, seolah – olah dengan yakinnya sinetron-sinetron Indonesia merasa masih dan tetap memiliki tempat di hati pemirsanya.
Masih teringat
Masih segar dalam ingatan, sekitar tahun 90an, (R2 masih SMU waktu itu) sinetron memang lagi booming-boomingnya. Keadaan perfilman nasional yang mati suri tersebut memang membuat sinetron mampu mencuri perhatian penonton Indonesia. Tapi masih segar juga dalam ingatan kalau cerita-cerita sinetron terdahulu memang sangat menarik untuk disimak. R2 masih ingat juga akan jumlah-jumlah episodenya yang menurut R2 masih standar (sekitar 26-52 episode) untuk sebuah judul sinetron (kecuali “Tersanjung” ). Bahkan justru dulu yang episodenya bisa sampai 200an lebih adalah telenovela import dan berhasil membuat R2 terheran-heran. Kok bisa ya ?
Ciri-ciri Sinetron Indonesia terkini
-
Walaupun tidak semua, tapi biasanya judul sinetron mirip dengan judul soundtrack-nya. Sebut saja Lagu ”Sebelum Cahaya” dengan sinetronnya ”Cahaya”
-
Bicara soundtrack, biasanya produksi-produksi sinetron akan berebut menggunakan lagu-lagu Indonesia terbaru terutama yang laku dan khas, walaupun dengan mengabaikan kesesuaian tema cerita dengan lagu. R2 masih ingat, ada seorang musisi tahun 90-an yang dulu sering banget bikinin lagu untuk soundtrack sinetron, namanya Chossy Pratama. Mungkinkah sinteron kita akan kembali demikian ?
-
Di sinetron Indonesia, seseorang yang ceritanya udah mati, eh di kemudian hari bisa idup lagi dan lumayan bisa bikin konflik baru. Itung-itung buat nambah durasi and episode. Ck ck ck….
-
Kalo ratingnya udah bagus, apalagi top skor, udah bisa dipastiin episodenya bakalan nambah panjang dan panjang lagi, padahal seharusnya ceritanya udah berakhir. Ceritanya ? Ya gitu-gitu lagi, kalo yang antagonis udah jadi baek, giliran sang protagonis jadi jahat. Kapan selesenya sih ?
-
Rata-rata perbandingan kemenangan baik vs jahat 1 : 10 bahkan bisa lebih. Lho kok bisa ? Coba deh liat bareng-bareng gimana dengan ”munafiknya” seorang yang udah disakitin bolak-balik ampe keilangan semuanya bisa dengan mudah memaafkan. Alih-alih pendidikan ? ah gak juga. Yang ada penonton pada gregetan sampe ada yang hampir nghancurin TV sendiri (salah seorang keluarga R2).
-
Maksain banget nampilin ABG-ABG buat dibikin jauh lebih tua dari usia sebelumnya. Maksudnya apa ? Mereka culun ya tetap aja culun. Kreatif dikit dong ceritanya. Khan kasian mereka….
-
Bagi temen-temen yang mo nambahin, silahkan tambah aja di comment. Trims before…
R2 sendiri bingung, ini ulah oknum siapa. Mengapa sinetron yang dulu sangat digemari oleh semua kalangan bisa menjadi ”sampah” dalam sekejap. Tapi pliss… Bapak/ibu/saudara produser, anda-lah yang pertama-tama harus instropeksi mengapa hal ini bisa terjadi. Ayo dong, mulai dengar pendapat kita-kita, jangan tutup sebelah mata dong.
Last but not least, semoga ini dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi kita semua. Indonesia bukanlah Negaa kecil yang bisa dengan begitu mudah didefinisikan dan diseragamkan. Akan selalu ada riak, perbedaan, dan keragaman dalam menyikapi suatu hal. HIDUP INDONESIA!
