Ruparupanya…

Informasi campur-campur

Dalam “kebabibutaan” SATPOL PP

Posted by Putu Steven Mendra on May 20, 2009

akhirnya Siti Meninggal...

akhirnya Siti Meninggal...

Adalah seorang bocah bernama Siti Khoiyaroh. Bersama ibunya, Khomariyah, di dekat area WTC Surabaya, ia dengan senang dan gembira layaknya anak-anak seusianya membantu sang ibu yang sedang berjualan bakso, pada hari Senin, 11 Mei 2009 lalu. Walaupun mungkin hari itu ia merasa sama saja dengan hari-hari yang lain, tapi tidaklah demikian kenyataannya.

Tiba-tiba saja terdengar deru mobil dan teriakan-teriakan menggelegar yang berbunyi dari gerombolan petugas Satpol PP. Ia bingung, bingung melihat paras ibunya, bingung pula dengan apa yang sebenarnya terjadi. Di saat resah melanda, yang ia tahu ibunya sudah dengan sigap menggendongnya… dan bersiap membawa ‘rombong bakso’ perjuangan hidup mereka menjauh dari tempat itu. Dan tiba-tiba… BLAARRRR… gemuruh suara tabrakan terdengar, dan rombong itupun terguling.

Panas! tiba-tiba saja Khoiyaroh merasa panas sekujur tubuhnya… Ya! Ia baru saja tersiram kuah bakso daganyan ibunya sendiri…..!
Sepekan berlalu… 18 Mei 2009… Siti Khoiyaroh meninggalkan dunia ini.

Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 15.15 WIB (okezone.com) tanpa meninggalkan pesan apapun. Teman-teman tahu usianya ? 4 tahun. Apa yang bisa dan biasa dilakukan anak-anak seusia itu ?

Lain lagi si Vivi, seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) di Tangerang. Bersama teman-temannya, ia mencoba melarikan diri dari kejaran (lagi-lagi) Petugas Satpol PP. Karena terdesak, ia dan rekan-rekannya menceburkan diri ke sungai sedalam 20 meter. Ia lelah… dan akhirnya maut pun menjemputnya.

Apa kata para pejabat- yang nota bene atasan para satpol PP ?
Sekretaris Daerah (Sekda) Tangerang Harry Mulya Zein dan Kabag Humas Pemkot Tangerang Ahsan Anahar tidak bisa dikonformasi tentang kejadian ini. Menurut Tihadi Antonius, Kepala Seksi Pengawasan dan Penertiban Satpol PP Kota Tangerang modus menceburkan diri yang dilakukan PSK sudah biasa, sehingga pihaknya tidak kaget. “Itu bukan kesalahan kami,” katanya. (mediaindonesia.com-Senin 18 Mei 2009).

2 (dua) hal ini bukanlah dua-duanya berita yang menggambarkan betapa sudah meresahkannya sang Petugas Satpol PP dalam mengambil tindakan. Atas nama penertiban, atas nama perintah atasan, mereka pun menunjukkan eksistensinya. Saya percaya, bahwa Satpol PP tidak selalu bertugas untuk menertibkan PKL, gepeng, dsb.

Tapi saya setuju bila mereka juga identik dengan kekerasan. Mungkin saya harap Bapak-bapak yang di atas sana, mau turun sejenak ke lapangan, dengarkan keluhan mereka… dengarkan keluhan para PKL,… dengarkan pula keluhan Satpol PP,…. karena mereka juga… M.A.N.U.S.I.A.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>